Cerita Kuda Putih Pesanan Kahiyang yang Berubah Menjadi Kuda Cokelat

Posted by


Arak-arakan calon mempelai putri, Kahiyang Ayu telah berlangsung Rabu (8/11/2017) pagi. Dalam arak-arakan itu, Kahiyang dan rombongan pengantar menunggang kereta kuda dari kediaman menuju gedung Graha Saba Buwana.
Yang menarik, tak ada kuda putih yang menarik kereta kencana yang ditumpangi calon pengantin, Kahiyang. Padahal sejak awal Kahiyang telah memintanya. Kuda putih yang dipesan Kahiyang diganti dengan kuda cokelat.
"Pak Jokowi minta untuk memakai kuda yang sudah ada saja,. Kuda yang sudah biasa digunakan," kata kusir kereta kencana itu, Mujiono saat ditemui Beritagar.id di lapangan di samping utara gedung perhelatan yang menjadi lokasi parkirnya.
Kuda-kuda yang dimaksud adalah kuda-kuda yang sudah biasa digunakan untuk menarik andong. Ada 16 ekor kuda yang digunakan menarik kereta-kereta itu. Ke-16 kuda itu berkelamin betina dan berjenis poni. Kuda poni adalah kuda blasteran hasil perkawinan antara kuda Jawa dengan kuda Australia.
Dibandingkan dengan kuda lainnya yang digunakan untuk menarik kereta, dua kuda yang menarik kereta yang ditumpangi Kahiyang didandani dengan unik. Surai-surainya yang panjang dijalin dan diberi pita warna merah putih serta diberi pelana berwarna merah. Keretanya pun dipenuhi hiasan bunga di sisi tempat duduk kusir, samping dan belakang bodi kereta. Jenis keretanya pun berbeda dari tujuh kereta lainnya.
"Kereta ini jenisnya kereta kencana. Namanya Kiai Setyoningrum milik Kanjeng Setyonegoro, kerabat Kasunanan Surakarta," kata Mujiono yang bersama kusir dan pekathik atau penuntun kuda lainnya mengenakan seragam atasan merah dan bawahan celana putih khas Keraton Surakarta.
Ciri khas kereta kencana adalah bentuk bodi kereta yang tertutup dengan dinding pembatas antara penumpang dengan kusir terbuat dari kaca. Kedua sisinya pun berdaun pintu dan berkaca. Selain itu, pada atap kereta terdapat hiasan serupa mahkota berwana kuning emas. Kereta Kiai Setyoningrum pun dipenuhi hiasan patung naga pada sisi atas dan belakangnya.
Sedangkan tujuh kereta lainnya berjenis kapulithi dan biolet yang sama-sama tidak diberi daun pintu. Kereta kapulithi adalah kereta dengan bodi terbuka, tetapi mempunyai atap penuh. Kereta itu yang ditumpangi Bobby.
Sementara kereta biolet adalah kereta dengan separuh atap tertutup pada sisi atas belakang dan separuhnya terbuka pada sisi atas depan. Dari delapan kereta itu, empat di antaranya adalah milik pemerintah Kota Surakarta, termasuk kereta kencana.
Dua kereta lainnya adalah milik Jokowi yang disimpan di gedung Graha Saba Buwana untuk memfasilitasi masyarakat umum yang ingin menikah dengan naik kereta kuda. Sisa dua lainnya adalah kereta milik Anwar Muhtadi, koordinator kirab kereta kuda dalam pernikahan Kahiyang-Bobby.
Kehadiran empat kereta milik pemerintah kota yang disimpan di rumah dinas Walikota Surakarta di Loji Gandrung itu, diungkapkan Mujiono juga ada latar belakangnya. Empat kereta itu diadakan ketika Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Surakarta pada periode pertama.
"Pak Jokowi punya program. Yang naik kereta kencana jangan cuma orang keraton saja, tetapi rakyat kecil juga bisa," kata Mujiono.
Selain digunakan untuk acara kirab, empat kereta itu juga bisa disewa masyarakat umum untuk berwisata di seputar Kota Surakarta. Semisal wisata ke keraton, ke pasar barang bekas "Triwindu".
"Tidak ada rute khusus. Yang penting hanya untuk di Kota Surakarta," kata Mujiono.
Siang kian terik. Delapan kereta yang masih lengkap dengan 16 ekor kudanya masih berada di lapangan. Beberapa ekor kuda tampak tengah makan. Menurut penuntun kuda, Wahyu belum mengetahui agenda selanjutnya berkaitan dengan kuda-kuda itu. Tidak ada kejelasan apakah kereta-kereta kuda itu akan menjemput Kahiyang-Bobby untuk pulang ke kediaman Jokowi ataukah tidak.
"Dulu (saat pernikahan Gibran Rakabuming Raka dengan Selvi Ananda) pulang setelah mengantar akad. Ternyata dipakai juga untuk menjemput. Kami tergesa-gesa menyiapkan," kata Wahyu.
Dia pun khawatir, kuda-kuda yang menarik kereta itu kelelahan karena terlalu lama menunggu. Apalagi cuaca panas.
"Untungnya kaki-kaki mereka menapak di atas tanah, jadi dingin. Kalau di atas aspal, lebih kepanasan," kata Wahyu.



Untuk mendaftar cukup klik gambar dibawah ini:


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: November 09, 2017

Popular Posts

Blog Archive

Histats

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.